Sarapankata.ApkAplikasi Sarapankata, Ringan dan Cepat irit Kuota

TINTA = BUDAYA LITERASI

TINTA = BUDAYA LITERASI

“Aduuuuhhhh, sebel gua kalau Pak Ikin udah ngasih pe er nulis karangan”. Mulut Jajang yang sudah mancung jadi tambah mancung gara gara suasana hatinya. “Apa tadi judulnya?!”

“Tipi alias televisi. Nih gua ulang ya. Jangan lupa lu. Tipi, tiii…piii…”. Mulut Roni, teman sekelas Jajang juga ikut maju ketika membicarakan pe er malapetaka Bahasa Indonesia itu. Mengarang!

“Dah lah. Gua copy dari internet aja nanti.”

“Yo i Coy. Ngapain susah susah!” Anak kelas tiga SMU unggulan itu berhamburan riang meninggalkan teras depan kelas mereka.

Kedua anak SMU yang kugambarkan di atas adalah bagian dari data statistik menyedihkan tentang kemampuan tulis baca bangsaku ini. Inilah dia. Menurut Programme for International Student Assessment (PISA), tingkat literasi Indonesia adalah 64 dari 65 negara yang disurvey alias jawara dua dari bawah. Bandingkan dengan Vietnam yang juara 20, dari atas. Menurut UNESCO indeks minat baca Indonesia adalah 0,001, artinya hanya 1 di antara 1000 orang Indonesia yang hobi membaca. UNDP bercerita lain, yaitu angka melek huruf Indonesia 65,5 sementara Malaysia 86,4.

Penyebab carut marut di bidang baca tulis ini disebabkan oleh beberapa hal. Pertama, literasi tidak menjadi bagian dari kurikulum. Aku ingat ketika akan melanjutkan pendidikan ke Australia, kami calon penerima beasiswa belajar membaca cepat. Jangan ditanya pe per menulis yang harus diselesaikan setiap hari. Demikian sistem pendidikan Australia mensyaratkan untuk bisa belajar di PT di Australia. Adakah persyaratan itu di Indonesia?

Penyebab lain adalah tingginya jam menonton TV di kalangan anak anak Indonesia, yaitu 300 menit per hari. Bandingkan dgn 150 menit di Australia, 100 menit di US dan 60 menit di Kanada.

Kalau sudah seperti ini, dari mana masalah akan diurai? O, berarti ini masalah bukan? Bersyukurlah kita jika masih melihatnya sebagai masalah. Banyak orang tua, guru, dosen, bahkan pengambil kebijakan strategis di bidang pendidikan, melihat ini bukan masalah.

Ya, tingkat literasi sangat menentukan kemajuan suatu bangsa. Semakin tinggi kemampuan baca, semakin banyak pemgetahuan akan diserap. Sisi lain dari membaca adalah menulis. Kemampuan baca yang baik akan berimbas pada baiknya skill menulis seseorang. Semakin banyak tulisan, semakin terdokumentasikan suatu pengetahuan. Seorang ulama salaf, Abdullah ibn `Amru, mengatakan ” Ikatlah ilmu dengan menuliskannya.”

Kembali kepada pertanyaan di atas, dari mana biang keladi akan diurai? Jika diri ini tak mampu mengubah sistem besar, mengapa tak berupaya mengubah sistem kecil, alias diri sendiri? InsyaAllah bisa memberi warna pada anggota keluarga, teman sekantor, teman sepengajian, atau bahkan teman duduk seperjalanan.

Mengapa kita tidak mulai dari membaca Al Quran secara rutin, tilawah dan terjemahannya, setiap hari. InsyaAllah berkembang menjadi membaca tafsirnya, secara rutin pula, walau tidak setiap hari. Lantas membaca koran, tabloid, majalah dan buku. Semuanya harus dipilih yang bergizi. Berapakah targetnya? Hanya diri kita yang mampu mengukur. Namun kuncinya adalah rutin. Rutinkanlah sebagaimana merutinkan menonton TV. Dan ingat, bagi anak anak di rumah, kegiatan rutin membaca yang dilakukan orang tua, bisa menjadi contoh bagi mereka.

Lantas menulis, momok berikutnya dari bangsa ini. Berapa banyakkah grup menulis di seantero negeri? Aku ingat ada Forum Lingkar Pena, salah satu media berkumpul penulis muslimah. Lalu grup tercinta ini. Mungkinkah ada sebuah gerakan besar “Menulis Untuk Negeri”? Kemudian, mengapa tidak diadakan sayembara menulis di sekolah, universitas, kantor, bahkan di masjid?

Akhirnya, umat Islam, sebagai bagian terbesar dari bangsa ini, mestinya bangga bahwa membaca adalah perintah yang eksplisit dari surat”Iqra”. Masih dalam surat yang sama, “allama bil qalam” ditafsirkan sebagai perintah untuk menulis. Bukankah Allah, pertama kali, menciptakan pena?

Tulisan ini kutulis khusus untuk teman teman di grup Menulis Untuk Ibadah, yang seperti apa pun kondisinya terkait menulis : sudah lancar alias pede, malu malu, takut, tak ada waktu alias lelah, silent.

Bandung, 29 12 2015
Lisa Tinaria

Share informasi menarik iniShare on Facebook0Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn0Pin on Pinterest0

Ada pertanyaan atau komentar?

Lihat Aturan kami

Your email address will not be published. Required fields are marked *