Sarapankata.ApkAplikasi Sarapankata, Ringan dan Cepat irit Kuota

TIDAK MUSTAHIL

Tidak MUSTAHIL

“Rasanya mustahal, eh, mustahil Bu, akan ada dalam dua atau tiga bulan ke depan”. Arum tetap dengan senyum ketika menyampaikan kegalauannya itu.
“Arum mulai kuliah kapan?” tanyaku prihatin.

“Oktober akhir tahun ini aku harus berangkat. Paling lambat Desember”. Kali ini Arum tidak tersenyum.

“Lantas sudah ada `penampakan`?” aku memberanikan diri bertanya hal yang pribadi ini. Arum dan aku jarang berdiskusi dan kami beda generasi. Tetapi kesamaan visi di antara kami menjadikan kami tak rikuh membincangkan hal yang prinsipil ini.

“Ibu tahu kan teman seruanganku yang namanya Aan? Nah, dia itu bilang ke atasanku, kalau suka sama aku”. Arum berhenti sebentar. “Bukan masalah fisik Bu”. Aku dapat menangkap maksud yang dijelaskan Arum, yaitu seorang laki-laki berkulit agak gelap, dengan muka yang chubby. Tingginya sedang.

“Kenapa tidak diterima?” selidikku, penasaran.

“Sholat masih sering telat. Bahkan kadang harus diingatkan teman di dekatnya. Nggak otomatis ketika mendengar adzan”. Arum menampakkan wajah serius. “Lalu, koq mellow banget ya. Sedikit-sedikit perasaannya dinyatakan di statusnya. Aku nggak butuh laki-laki seperti itu. Nanti kalau aku ada kekurangan, dia akan buka itu di statusnya dia kan?”

Aku benar-benar memahami Arum. Dalam hal ini kami sependapat. Laki-laki yang kami butuhkan adalah yang dewasa secara spiritual dan emosional.

“Arum, orang sering berkomentar terhadap status lajangku `Jangan pilih-pilih`. Bagaimana kita tidak memilih ya Arum kalau ini menyangkut urusan akhirat?!”.

“Ha?! Harus dipilih-pilih Bu. Jangan asal embat aja!” Arum masih serius. Kami terdiam sejenak.

“Lantas dari mentor di pengajian, adakah?” Aku tak malu bertanya lebih jauh.

“Ada, tetapi maunya wanita yang tidak bekerja. Sementara aku?!”

“Ibunda Arum? Punya?” tanyaku lagi.

“Belum ada”.

“Terus, kakak Arum, belum menikah, Ibunda bagaimana? Beberapa bulan lalu kan beliau mempermasalahkan bahwa anak yang lebih tua yang harus menikah duluan”. Aku ingat Arum pernah menyampaikan masalah ini.

“Sekarang Ibuku sudah berubah pikiran. Terserah saja, kata beliau. Siapa yang sudah punya calon, silakan duluan”.

“Berapa lama akan di sana?”

Arum, alhamdulillah mendapat beasiswa dari Uni Eropa untuk melanjutkan selolahnya ke jenjang S3, di Munich, Jerma . Sang Ibunda, memberi ijin berangkat, dengan satu persyaratan : Arum sudah menikah.

“Delapan tahun. Empat tahun tesis, empat tahun mengabdi atau magang pada professor pembimbingku”.

Aku sulit membayangkan, di belahan bumi sebelah sana, Arum tinggal jauh dari orang tua, selama delapan tahun pula. Siapa yang akan menjaganya? Dari penjelasan Arum, di antara penerima beasiswa yang seangkatan dengan dia, hanya Arum yang dari Indonesia.

“Kalau persyaratan Ibumu tidak terpenuhi, bagaimana?” Aku khawatir.

“Nggak tahu lah Bu, apakah beasiswa ini akan diambil atau tidak”. Arum menghela napas dalam, melepaskannya dan terduduk lemah. Kelihatan bahunya agak membungkuk.

“Arum, jangan sampai tidak diambil beasiswa ini. Sangat susah mendapatkan beasiswa. Persyaratan Ibunda, benar adanya. Jika Arum pergi jauh dalam waktu lama pula, harus ada mahrom yang mendampingi. Semoga persyaratan Ibunda, adalah doa.” Aku memegang erat tangan Arum, gadis muda berhijab lebar yang cerdas lagi ceria. “Dengan ijin Allah, tidak ada yang mustahil. Jika Allah menghendaki, Arum akan segera menikah”.

“Aamiin” Arum tersenyum kepadaku. Duduknya kembali tegak.

Bandung, 09 08 2016
Lisa Tinaria

Share informasi menarik iniShare on Facebook0Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn0Pin on Pinterest0

Ada pertanyaan atau komentar?

Lihat Aturan kami

Your email address will not be published. Required fields are marked *