Sarapankata.ApkAplikasi Sarapankata, Ringan dan Cepat irit Kuota

PECAHAN KATA

PECAHAN KACA

Bik Ima mengelap meja yang bertaburan pecahan kristal itu dengan sapu tangan di atas meja. Dia reflek mengambil pengelap sejangkauannya.

Anak majikannya yang baru berumur dua tahun, baru saja memecahkan vas kristal berisi rangkaian bunga kristal. Vas tinggi itu rebah di atas meja berbahan marmer. Butiran kristal berhamburan di atas meja makan, di sela-sela piring dan mangkuk.

“Mmma…mmm hhhhhmaaaaaa” terdengar pekiknya diselingi tangis begitu dia menyadari melakukan kesalahan. Tak ada yang memelototi atau menghardiknya dalam acara makan malam ini. Tetapi begitulah sebuah reaksi wajar, berupa rasa takut dari seorang balita ketika mendengar pecahnya benda kaca karena perbuatannya sendiri.

“Sudah, sudah, nggak apa apa” Ayah berusaha menenangkan. Dia langsung berdiri mendekati bungsunya itu, mengangkatnya dari kursi makan balita dan mendekapnya sambil menempelkan pipinya ke pipi anaknya. Sang Bunda yang sedang menyendokkan makanan untuk sang Kakak, menghentikan sendokannya dan berusaha mendekati si Adik yang masih sesengukan.

Tak ada yang mempermasalahkan pecahnya benda mahal kesukaan Bunda itu. Yang dikhawatirkan Ayah dan Bunda adalah jika pecahan kaca itu tersentuh oleh Adik.

“Sudah dilap Bik?” Bunda bertanya sambil mengambil alih, gendongan Adik.
“Sudah Bu”. Bibik meletakkan sapu tangan pengelap meja di meja makan. Makan malam dilanjutkan, sementara Adik sudah berhenti menangis.

——-

Esok pagi keluarga kecil itu sudah kembali duduk mengitari meja makan. Adik, walau masih sangat kecil, sudah ikut dalam ritual keluarga tersebut dan diajari makan sendiri. Tidak hanya itu. Dia juga sudah belajar mengangkat gelas minumnya, dan mengelap mulutnya dengan sapu tangan.

Seperti biasa selesai makan Adik akan mengambil sapu tangan yang terdekat dengan dirinya. Kali ini terdapat sebuah sapu tangan berwarna putih yang sudah tidak beraturan lipatannya, di sebelah kiri Adik. Dia mengangkatnya dengan jemari kecilnya dan mengelap mulutnya dengan itu. Gerakannya tak beraturan, menggemaskan. Bunda memperhatikan dengan tersenyum. Selesai memakainya, Adik meletakkannya sembarangan di depan piringnya.

“Lho… pipi Adik kenapa koq berdarah?!” Ayah bertanya mengangetkan yang lain. Bunda langsung menghentikan makannya dan menghambur ke dekat Adik. Di pipi Adik terdapat beberapa guratan halus merah berdarah. Bunda melihat aneh pada pipi anaknya. Tak ada sebab. Tetapi… Mata Bunda menangkap bercak darah pada sapu tangan putih yang barusan dipakai Adik.

“Bik Imaaaaaa…..!!!” lengking Bunda. “Sapu tangan ini yang dipakai untuk ngelap pecahan kaca tadi malam? Kenapa masih di sini? Coba ini lihat Adik. Dia memakaj sapu tangan ini. Pipinya luka!” Kata-kata Bunda bagai berondongan peluru. Sulit dihentikan.

Bik Ima hanya bisa datang tergopoh-gopoh, menganga tetapi tak mampu bicara.

“Kemarin lupa mematikan kompor, minggu lalu lupa mencabut kabel setrika, pisau diletakkan di sembarang tempat sehingga dipakai Adik, mesin cuci rusak karena dimuat terlalu banyak. Apa lagi?!” Bunda tak sanggup menahan kemarahannya. Suaranya tinggi dan bicaranya cepat. Pemilihan kata-katanya lugas. Selama ini dia berusaha menahan diri. Tetapi kali ini kecerobohan Bik Ima tidak hanya menjengkelkannya tetapi juga melukai wajah buah hati.

“Jadi bagaimana?” tantang Bunda. Bik Ima hanya bisa menunduk lesu.

Bandung, 09 09 2016
Lisa Tinaria

Share informasi menarik iniShare on Facebook0Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn0Pin on Pinterest0

Ada pertanyaan atau komentar?

Lihat Aturan kami

Your email address will not be published. Required fields are marked *