Sarapankata.ApkAplikasi Sarapankata, Ringan dan Cepat irit Kuota

NANGKA JATUH

NANGKA JATUH

“Seperti nangka jatuh” adalah sebuah pepatah Minang. Coba bayangkan sebuah nangka jatuh dari pohon. Pastilah itu nangka yang matang, bukan? Aromanya mungkin sudah menyebar. Hhmm, pasti nikmat jika dimakan begitu saja atau dicampur ke kolak atau es teler. Intinya, hal-hal yang baik mengiringi si nangka.

Sekarang, coba bayangkan bunyi nangka ketika jatuh. Buk! Bunyinya padat, menandakan yang jatuh adalah barang berat, tetapi barang itu tak akan pecah. Dari bunyi jatuh inilah pepatah itu kemudian mempunyai arti.

“Bunyi kau, ketika jatuh dari tangga tadi pagi, persis bunyi nangka jatuh. Ha ha ha…Mantap sekali. Istriku sampai menghentikan gorengannyw”. Abdullah terpingkal-pingkal, demi mengingat kembali peristiwa tadi pagi.

Sahabatnya Nasruddin Hoja, hanya tersenyum masam. Apa hendak dikata. Ungkapan sahabatnya itu benar adanya. Persahabatan keduanya tak berbatas, sampai pada hal menertawakan kesialan teman. Nasruddin adalah seorang sahabat yang sabar lagi lugu. Namun, untuk kali ini, hampir saja Nasruddin menitikkan air mata.

“Sini aku pijat sekarang telapak kakimu”. Perkataan Abdullah inilah yang membuat bening di sudut mata Nasrudin batal jatuh. Abdullah, walau penaik darah sekaligus periang, termasuk dalam menjadikan Nasrudin sebagai bulan bulanan, tetaplah seorang sahabat yang baik. “Sudah enakan pergelangan kakimu kan?” Abdullah memandang serius pada pergelangan kaki Nasrudin.

“Ya” angguk Nasrudin.

“Aku mohon maaf atas kecelakaanmu tadi pagi itu”. Abdullah sadar sohibnya jadi sedikit bicara. “Seharusnya tangga bambu untuk kau naik ke atap itu, aku lap dulu sampai kering”. Ada rasa bersalah dalam suara Abdullah.

Nasrudin adalah sahabat yang tulus. Abdullah memintanya memeriksa genteng karena hujan deras semalam telah menghasilkan bocor di teras rumahnya. Nasruddin yang ringan tangan, segera datang ketika dimintai tolong.

“Kau sahabatku, aku ingin menyampaikan sesuatu”. Nasruddin kalau sudah akan bicara, dengan kalimat pembuka seperti itu, pertanda akan memberikan hikmah. Abdullah, seperti biasa, akan mendengarkan dengan diam.

“Aku sedang sakit, engkau menertawakan aku?” suara Nasrudin lirih, hampir tak terdengar. Air matanya kembali hampir menitik. “Kau ingat pesan Rasulullah? Jika Saudara kita sedang sakit, kita harus mendoakannya dan berempati terhadapnya”.

Abdullah berhenti memijat demi mendengar kalimat Nasruddin. Rasa bersalahnya semakin menjadi jadi. Sejujurnya dia terpingkal bukan semata menertawakan sohibnya itu. Tadi malam anaknya belajar peribahasa dan barulah dia tahu dari anaknya bahwa seperti nangka jatuh itu pas untuk peristiwa yang menimpa Nasruddin. Namun alangkah tak eloknya jika pelajaran bahasa Indonesia itu dia ceritakan ke Nasrudin. Alhasil, Abdullah menerima dengan takzim kemarahan bernada kelembutan dari Nasrudin Sekarang gantian Abdullah jadi berkaca kaca.

“Aku salah Nasrudin”. Abdullah menunduk dalam. Air matanya akhirnya jatuh juga. “Maafkan aku”, katanya sambil mengusap pipinya yang basah.

“Jangan kau ulangi lagi”. Nasrudin tersenyum pada temannya yang sekarang menatapnya sendu.

“Maafkan aku”. Abdullah melanjutkan memijat lutut Nasruddin.

Bandung, 25 April 2016
Lisa Tinaria

Share informasi menarik iniShare on Facebook0Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn0Pin on Pinterest0

Ada pertanyaan atau komentar?

Lihat Aturan kami

Your email address will not be published. Required fields are marked *