Sarapankata.ApkAplikasi Sarapankata, Ringan dan Cepat irit Kuota

MIND MAPPING vs OUTLINE

(Nilai-Nilai Kemanfaatan di Antara Mind Mapping dan Outline)

Sebagai seorang penulis, atau calon penulis, atau yang telah berikrar dengan ikhlas untuk menjadi seorang penulis, diperlukan kiat, cara, dan teknik untuk menjadikan sebuah ide menjadi sebuah naskah. Yaitu, sebuah naskah utuh yang pantas dan dipentaskan dalam kepantasan untuk menjadi bahan bacaan bagi orang lain. Sebagai bagian dari tersebarnya sebuah kebaikan. Atau sebagai bagian dari hikmah kehidupan, yaitu memberikan kebaikan kepada orang lain. “Khairukum ahsanukum lighairih: sebaik-baik kalian adalah yang memberikan kebaikan kepada orang lain.”

Salah satu kiat untuk memberikan kemudahan kepada seorang penulis adalah adanya “ikatan” pola pikir yang sudah mengangan di dalam pikiran kita. Gagasan-gagasan yang ada, kita tuangkan dalam bentuk teknis berupa Mind Mapping atau Outline. Apa itu Mind Map? Apa pula dengan Outline. Mari kita bahas satu persatu untuk lebih memahami kedua teknis langkah awal dalam sebuah naskah tulis.

A. Mind Mapping

Sekitar tahun 2009 saya pernah mengikuti sebuah BIMTEK Kurikulum 2013 di Hotel Fitri, Malang. Salah satu materi dalam bimbingan tersebut adalah pembuatan mind mapping. Maind Mapping adalah sebuah peta konsep untuk suatu penulisan naskah. Namun, dalam praktiknya, Maind Map juga dapat diaplikasikan di dalam proses belajar mengajar (KBM).

“Mind Maping yaitu sebuah proses memetakan pikiran untuk menghubungkan konsep gagasan ke cababang-cabang untuk tujuan pemahaman.”

“Mind map atau peta, atau rute tulisan atau juga poin-poin penting dalam menulis. Jadi kita buat coretan penting, seperti membuat stasiun tulisan buatlah detail dan semakin bercabang semakin kita mengerti jalur penulisan yang akan kita buat.” (Menurut Ernawati Lilys dalam pelatihan Kelas Menulis Online, KMO batch 09)

Maind Mapping pertama kali diperkenalkan oleh Tony Buzan. Buzan berpendapat bahwa otak kiri dan otak kanan akan bekerja dengan seimbang apabila dibantu oleh proyeksi/gambar yang relevan. Maka, di dalam Main Map dianjurkan untuk memberikan warna-warna mencolok, bentuk-bentuk gambar yang menarik, serta kata-kata yang dapat mewakili peta pikiran yang sedang kita konsep.

Sehubungan dengan kepenulisan, Mind Map berguna sebagai alat untuk mempermudah dalam menulis. Dengan peta konsep atau peta pikiran, kita akan dibawa ke pembahasan yang tidak akan menyimpang dari awal gagasan yang telah kita pikirkan. Dengan kata lain, Mind Map memberikan kemudahan untuk menuangkan gagasan dalam bentuk tulisan. Menurut Teh Ernawati Lilys, “jika Mind Mapping tidak memberikan kemudahan, atau malah membuat kebingungan, maka tidak perlu membuat Mind Map.” Nah, tuh kan?

Masih menurut Teh Erna, ada beberapa manfaat dari Mind Map;

1. Dari segi waktu pemahaman ide, akan lebih efisien. Karena dengan konsep dan teknik ini kita dibawa pada pokok/fokus persoalan yang lebih khusus. Sehingga cabang ide lebih dapat diantisipasi, agar tidak mengarah kepada ide-ide yang tidak relevan.

2. Tema utama bisa dipahami dengan jelas karena posisi di central. Dengan pusaran pokok bahasan terdapat di tengah-tengah (pusat), maka hal tersebut lebih memberikan kemudahan untuk dibahas dengan pola yang lebih fokus. Pemahaman terhadap tema akan semakin baik, dan tulisan akan lebih mungkin mewujud dalam bentuk naskah.

3. Cabang-cabang ide (pokok bahasan?) bisa terbaca dan menjadi gambaran dari tema utama. Cabang-cabang ini pula yang nantinya akan menjadi bahasan-bahasan rinci, dari kalimat ke paragraf, ke dalam bentuk naskah yang realistis.

4. Berupa point-point (penting) jadi (lebih) mudah (untuk) diingat. Titik utama dalam ruang bahasa yang lebih mengarah kepada gagasan-gagasan yang akan dibahas.

5. Mind map juga membuat pembatas agar ketika menulis naskah tidak keluar jalur dan terjun bebas. Jadi bisa fokus ke point-point yang telah dibuat. Walau masih bisa diedit/direvisi.

Secara garis besar, pembuatan Mind Mapping dimulai dari tema utama yang berada di pusat peta konsep. Kemudian dilanjutkan dengan cabang-cabang yang merupakan sub tema dari tema utama. Dari sub tema bergerak cabang berikutnya yang merupakan sub-sub dari sub tema. Begitu seterusnya hingga dapat memuat berbagai (ragam) cabang yang nantinya menjadi pokok pikiran yang akan dikembangkan menjadi sebuah naskah.

Saat ini sudah banyak aplikasi-aplikasi Mind Map yang dapat diunduh dari internet. Di play store juga menyediakan ragam aplikasi ini, baik yang free (gratis) maupun yang berbayar.

B. Outline (Kerangka Karangan)

Outline atau kerangka karangan adalah sebuah konsep yang disusun secara terstruktur, memuat pokok-pokok pikiran yang akan dituangkan dalam bentuk tulisan. Outline juga diartikan sebagai pusat bahasan yang akan dikembangkan menjadi sebuah karangan yang akan disuguhkan kepada para pembaca.

Menurut Melvin Hutomo, outline atau kerangka karangan adalah;

“Kerangka karangan (outline) adalah suatu rencana atau rancangan yang memuat garis besar atau ide suatu kaya tulis yang disusun dengan sistematis dan terstruktur.” (https://melvinhutomo.blogspot.com/2015/11/outline-kerangka-karangan.html?m=1)

Jadi, outline adalah konsep utama dalam sebuah karya tulis yang dibangun guna memberikan kemudahan dalam pembahasan gagasan yang dimaksud. Pokok-pokok pikiran tersebut dibangun secara sistemik yang masih mengacu kepada pusat bahasan, tema, atau judul(?) dalam sebuah karya tulis.
Manfaat outline (kerangka karangan) menurut Hilman Darmawan di (http://hilmandarmawan29.blogspot.com/2015/11/outlineatau-kerangka-karangan-1.html?m=1) adalah:

1. Untuk menjamin tulisan terarah dan konseptual.

Dengan outline, karya tulis yang kita buat akan terarah ke dalam bahasan tema yang telah kita pikirkan. Jiminan ini sebagai pola kegiatan kepenulisan yang harus tersusun, tertuang dalam format yang terkonsep dengan fokus bahasan yang telah kita rancang.

Fokus bahasan diperlukan agar di dalam penulisan tidak terjadi kesalahan pemaparan di luar konsep/pokok bahasan. Jadi, pola gambaran bahasan terarah pada tema sentral berupa tema atau judul tulisan.

2. Untuk menyusun kerangka karangan secara teratur.

Konsep bahasan yang teratur, terstruktur, dan masif-konprehensif akan berdampak pada pemahaman para pembaca. Para penikmat karya tulis akan betah mencermati tulisan kita yang dibangun atas dasar konsep yang sistemik – sistematik – bersistem.

Di awal, ketika kita membuat kerangka tulisan yang baik, terstruktur akan mengalami sedikit kendala. Ini hal yang sangat biasa. Lumrah. Tetapi, jika kita tidak patah semangat, terus berusaha dan bersabar di dalam usaha ini, cepat atau lambat (saya pastikan cepat), kita akan mampu untuk berbuat yang lebih baik. Hee,, jangan lupa ikrar ya!

3. Membantu penulis melihat gagasan dalam kilas pandang sehingga tulisan memiliki hubungan timbal balik yang disajikan dengan baik.

Hubungan timbal balik atau kausalitas diperlukan agar tulisan memiliki ritme bahasan serta irama alur kisah yang logis. Memberikan nilai-nilai pengajaran yang akan membuat pembaca merasa lebih paham dan tercerahkan dengan konsep kemanfaatan yang terkandung di dalamnya. Hubungan timbal balik yang logis ini dapat dibantu dengan cara membuat outline atau kerangka karangan.

4. Memudahkan penulis menciptakan klimak yang berbeda-beda.

Bagian ini lebih mengarah pada karya fiksi. Dengan menggunakan outline, akhir dari sebuah kisah dapat diciptakan dengan klimaks yang “jleb.” Akhir dari sebuah kisah yang berkualitas dan lain daripada yang lain. Klimaks di sini memberikan warna dan nilai tersendiri bagi sebuah karya.

5. Menghindari penggarapan topik lebih dari dua kali atau lebih.

Tidak menutup kemungkinan bahwa dalam sebuah karya terdapat pembahasan yang berlebih. Hal ini didasari oleh tidak adanya patokan yang tepat dan terarah. Namun, dengan menggunakan outline hal seperti ini tidak akan terjadi. Sajian bahasan akan lebih simpel dan terarah. Tidak akan terjadi sebuah pembahasan berulang, kecuali jika bahasan tersebut benar-benar diperlukan.

6. Memudahkan penulis mencari materi pembantu.

Dengan outline atau kerangka karangan dapat memberikan kemudahan kepada penulis untuk menemukan materi atau bahan pustaka dari sumber lain. Bahan pustaka ini diperlukan untuk memberikan kekayaan pengetahuan dan membantu kejelasan ide atau gagasan yang kita inginkan. Bahan pustaka menjadi bernilai lebih dalam sebuah karya tulis, terutama tulisan yang bersifat nonfiksi.

C. Antara Mind Mapping dan Outline

Manakah yang lebih baik/utama di antara Mind Mapping dan Outline? Tidak ada yang lebih baik di antara keduanya. Baik Mind Mapping atau Outline membantu penulis untuk lebih memudahkan di dalam penggarapan sebuah karya tulis. Keduanya mempunyai kelebihan tersendiri. Tergantung kepada kebiasaan penulis, yang mana yang familiar di antara kedua teknik ini untuk dipergunakan.

Mind Mapping dibangun tanpa sebuah konsep yang terstruktur —dari atas ke bawah—. Masing-masing cabang mempunyai nilai yang setara untuk dibahas lebih awal, selama cabang tersebut berada dalam posisi yang sama. Dalam hal ini memberikan kebebasan kepada penulis untuk menggarap bahasan dari sisi mana saja. Ini termasuk nilai lebih dari sebuah Mind Map.

Outline adalah konsep gagasan yang sudah tersusun dengan struktur yang sistemik. Susunan ini tidak bersifat stagnan. Bisa mungkin seorang penulis meubah konsep susunan outline dari bahasan yang di atas dipindah ke bawah atau sebaliknya, selama kekhasan dan kelogisan bahasan masih dapat diterima logika umum.

Outline yang sudah sistemik dapat dikembangkan menjadi sebuah karangan/tulisan dengan lebih fokus dan lebih terarah.

Anda lebih suka yang mana? Mind Mapping atau Outline? Keduanya sama baiknya untuk membantu sebuah karya tulis menjadi lebih mudah dan lebih baik. Jika saya lebih suka memakai Outline, kemudian Anda suka menggunakan Mind Mapping, kini, saatnya kita berkompetisi dengan sehat —saling membantu, saling support, kritik yang membangun, dll— agar kita menjadi penulis yang diperhitungkan.

Sebaik apa pun sebuah teknis, jika tidak dieksekusi dengan tindakan nyata (benar-benar menulis), tidak akan pernah menghasilkan sebuah karya. Teknik diperlukan untuk memberikan nilai karya yang lebih berkualitas, namun yang terpenting adalah kemauan untuk menulis akan memberikan kesuksesan. Tidak ada salahnya kita belajar teknik menulis untuk motivasi diri agar terus bergiat dalam karya tulis.

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.” (Pramoedya Ananta Toer)

Madura, 18 Mei 2017

Share informasi menarik iniShare on Facebook0Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn0Pin on Pinterest0
2 Comments

Ada pertanyaan atau komentar?

Lihat Aturan kami

Your email address will not be published. Required fields are marked *