Sarapankata.ApkAplikasi Sarapankata, Ringan dan Cepat irit Kuota

KANCING

KANCING

“Nah, kancingnya seperti ini”, Bu Nana menunjuk pada gambar di majalah yang dibawanya. Itu adalah majalah wanita yang memuat beberapa halaman fashion.

“O, ini kancing tersembunyi” Mas Joko menyimpulkan apa yang dilihatnya di baju yang dipakai model kerempeng di halaman fashion itu

“Ya, nggak kelihatan kancingnya”. Bu Nana menutup majalah di pangkuannya. “Kapan selesai?”

“Satu minggu deh Bu. Hari Minggu,bisa Ibu ambil”. Seperti biasa, pada masa bukan lebaran Mas Joko menjanjikan lamanya menjahit baju seperti itu.

Keesokan harinya, di rumah jahit Mas Joko.

“Kancingnya diganti?” suara Udin melengking. “Ntar saya cari catatannya dulu!”. Udin membongkar tumpukan buku di atas rak rendah di sebelahnya. Masing-masing penjahit mempunyai buku pesanan masing-masing. Buku dengan nama Mas Joko, tidak ada.
“Ibu bener, minta jahit sama Mas Joko?”

“Iya”.

“Begini aja deh, saya catat dulu di buku saya”. Udin menuliskan “kancing diganti, kancing kemeja”.

Pada hari yang dijanjikan, Bu Nana datang ke rumah jahit Mas Joko.

“Lho, koq kancingnya begini?!” Bu Nana mendelik ke Mas Joko. “Gimana sih?” Suara Bu Nana menaik.

“Bu…” Belum selesai kalimat Mas Joko, Bu Nana sudah memberondongnya dengan kalimat berikut.

“Saya menelepon hari Senin. Model kancingnya minta saya ganti. Jadi nngak tersembunyi lagi, tetapi seperti kancing kemeja yang kelihatan buah kancingnya. Saya menelepon segera agar sampeyan jangan terlanjur memotong seperti permintaan pertama. Ini bagaimana sih?!” Bu Nana kehabisan nafas. Mas Joko kehabisan kata-kata.

“Ibu minta ubah, sama siapa?” Mas Joko memberanikan diri bicara dengan suara normal. Dia sadar pelanggan yang sedang naik darah, tidak boleh diladeni dengan kemarahan.

“Sama Udin, namanya”.

Mas Joko sedang dimarahi Bu Nana di depan empat pegawainya, termasuklah si Udin. Keempatnya berusaha tenang atau malah pura-pura tak tahu.

“Bu, saya mohon maaf. Bagaimana kalau saya minta waktu satu hari lagi untuk memperbaiki baju ini. Dari kancing tertutup ke kancing terbuka, masih bisa diperbaiki”. Cara bicara Mas Joko yang piawai akhirnya mampu melunakkan hati Bu Nana.

“Besok siang saya ambil ya”. Bu Nana mempertegas deadline.

“In sya Allah” jawab Mas Joko.

Setelah Bu Nana melewati pagar rumah jahit Mas Joko, terdengar umpatan “Mak Lampir!”. Serta merta Mas Joko menoleh pada Udin.

“Bukan masalah ibu itu Mak Lampir atau bukan. Tetapi ini sudah kali kedua kamu tidak memyampaikan pesan kalau ada perubahan”. Keempat pegawai – anak muda semua – terkaget mendengar gelegar suara Mas Joko yang sudah hampir paruh baya. “Kamu pikir, tidak memyampaikan pesan itu, perkara sepele?!”

“Ya, tetapi aku…” Udin berhenti bicara demi mendengar cecaran berikutnya dari atasannya.

“Sudah salah dua kali, kamu masih ngeyel! Bukannya minta maaf, malah mencari kesalahan pelanggan!” Mas Joko semakin meradang. “Kamu pikir dengan bekerja seadanya, cuek, bisa bikin bisnis maju! Ha!?” Terdengar gemeretak gigi Mas Joko. Keempat pendengar hanya bisa tertunduk. Mesin jahit tak ada yang berbunyi. Tak ada yang berani menatap Mas Joko karena ini adalah marah terbesar dalam sejarah rumah jahit itu. Para penjahit tersebut tak ada yang buka suara sekarang.

“Begini aja lah. Udin, kamu kalau masih mau bekerja di sini, dengan mengubah perilakumu, silakan kamu bekerja di sini sampai mati!” Mas Joko berusaha menenangkan dadanya yang turun naik karena amarah. ” Jika tidak bisa, kamu bisa angkat kaki sekarang juga. Kemasi barangmu segera dan aku akan bayar upahmu yang terutang”. Mas Joko berlalu dari ruangan yang penuh gelantungan bahan itu, ke ruang dalam, kemudian membanting pintu kamarnya sekuat tenaga sehingga membuat keempat pegawainya tersentak di kursi masing-masing.

Udin sebagai terdakwa utama, hanya bisa menunduk lesu. Dia tak menyangka kelalaian “kecil”, ya disangkanya itu kecil, bisa membuat murka induk semangnya. Udin mulai menyesali sikapnya yang memang slengek-an. Kebiasaan yang bertolak belakang dengan dunia jahit yang teliti dan apik.

Bandung, 03 08 2016
Lisa Tinaria

Share informasi menarik iniShare on Facebook0Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn0Pin on Pinterest0

Ada pertanyaan atau komentar?

Lihat Aturan kami

Your email address will not be published. Required fields are marked *