Sarapankata.ApkAplikasi Sarapankata, Ringan dan Cepat irit Kuota

GULA PASIR VS Gula Jagung

GULA PASIR Vs Gula Jagung

Kita di Indonesia sangat terbiasa dengan konsumsi gula pasir. Mulai dari minuman, cemilan atau kue, bahkan lauk seperti dendeng, juga sayur seperti gudeg, semuanya terkena sentuhan gula. Gula yang paling banyak dikonsumsi orang Indonesia adalah gula pasir.

Pemakaian pemanis berupa gula tebu, di Indonesia, tidak terlepas dari sejarah dan kebijakan pemerintah. Sejak abad lampau, penjajah sudah mulai membangun industri gula tebu di Indonesia. Saat ini masyarakat dan pemerintah tinggal melanjutkan dan mengembangkan industri tersebut. Sampai saat ini belum terdengar ada rencana pemerintah untuk mengganti jenis gula yang dikonsumsi masyarakat dari dominasi gula tebu ke gula jenis lain.

Lain halnya yang terjadi di Amerika Serikat. Pemakaian gula tebu di negara tersebut hanya mencapai 44%. Lantas kebutuhan sisanya dipenuhi dengan apa? Pemerintah Paman Sam sejak sepuluh tahun terakhir telah mengarahkan konsumsi gula orang Amerika dari gula tebu ke pemanis lain. Bukan ke pemanis buatan seperti aspartam atau sakarin tetapi pada gula yang kalau dikatakan alami, ya tetap dibuat dari tumbuhan, yaitu jagung. Konsumsinya mencapai 42%.

Pengalihan konsumsi ke gula jagung ini dipersiapkan oleh pemerintah AS sedemikian rupa yaitu dengan memberikan subsidi kepada petani jagung dan memberikan ijin kepada perusahaan rekayasa genetika -Monsanto- untuk memproduksi benih jagung GMO (genetically modifeid organisme). Akibatnya produksi gula jagung dunia didominasi oleh AS. Uniknya hanya 8% dari produksi tersebut yang dikonsumsi oleh rakyat Amerika, melalui industri pangan, terutama minuman ringan. Sisanya diekspor, dengan harga lebih murah daripada harga gula pasir.

Di AS sendiri, sudah terbukti secara ilmiah bahwa gula jagung (high frucrose corn syrup) berbahaya bagi kesehatan. Komposisi kimia fruktosanya yang sangat tinggi dibandingkan dengan kandungan fruktosa gula pasir, dapat mengakibatkan kerusakan hati, obesitas, tingginya tingkat kolesterol, diabetes, bahkan kanker. Tidak mengherankan jika penyakit penyakit tersebut menjadi epidemi di AS.

Epidemi tersebut sudah pula merambah negara berkembang. Diabetes, kolesterol tinggi, bahkan kanker, seperti menjadi penyakit sehari-hari yang kita temukan di sekitar kita. Tak lain karena komposisi makanan masyarakat negara berkembang telah beralih dari makanan alami yang dimasak di rumah ke makanan siap saji yang utamanya mengandung banyak gula. Gula itu pun bukan lagi gula pasir, yang secara susunan kimia lebih aman, tetapi beralih ke gula jagung.

Image bahwa gula pasir lebih aman, berusaha dipenuhi oleh sebagian produsen pangan di Indonesia, dengan menyamarkan nama pada bahan baku sebagai “gula”. Ini yang terjadi jika bahan baku ditulis dalam bahasa Indonesia. Faktanya, yang dimaksud gula di sana adalah gula jagung. Konsumen Amerika tampaknya bisa lebih kritis, karena gula di label makanan mereka benar benar dibedakan sebagai “cane sugar” (gula tebu) atau “hfcs” (gula jagung).

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa gula pasir yang ada dalam pemikiran masyarakat Indonesia umumnya, bukanlah gula tebu melainkan gula jagung. Pemakaian gula jagung jamak di industri pangan karena harganya yang jauh lebih murah dan tingkat kemanisan yang lebih tinggi. Bentuknya yang cair, juga lebih mudah diangkut. Gula jagung umum dipakai pada minuman ringan dan snack produksi pabrik.

Lantas? Tidak ada cara lain saat ini selain mengurangi secara drastis konsumsi makanan dan minuman hasil industri pangan (diproses di pabrik). Namun, patut diingat juga bahwa pemakaian gula pasir di rumah tangga, tidak berarti bisa sebebas-bebasnya.

Sumber: www.mercola.com dan beberapa sumber lain

Bandung, 13 08 2016
Lisa Tinaria

Share informasi menarik iniShare on Facebook0Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn0Pin on Pinterest0

Ada pertanyaan atau komentar?

Lihat Aturan kami

Your email address will not be published. Required fields are marked *