Sarapankata.ApkAplikasi Sarapankata, Ringan dan Cepat irit Kuota

CHARGER

CHARGER

“Kita kan umumnya mengartikan charger, hanya charger hp dan charger laptop” Toto membuat mimik serius pada sohibnya, teman satu kos-nya, Dendi.

“Ha?! Lantas apa lagi kalau bukan itu artinya?” Dendi kelihatan gusar pada temannya yang sering berfilsafat.
“Filsafat ngawur!” katanya melanjutkan. Sejak Toto rutin ikut pengajian minggu pagi di Masjid Taqwa, teman serumahnya selama empat tahun terakhir itu, semakin sering berceloteh tentang, hidup, mati, Allah, dan sejenis itu.

Malam minggu ini mereka berdua sedang membahas kegalauan masing -masing. Sudah dua jam keduanya menatap bintang, duduk di teras lantai dua yang terbuat dari kayu. Sudah ke barat ke timur perbicangan keduanya. Yang paling up to date adalah uang bulanan yang datang sering telat, kemudian deadline tugas ini itu. Yang lebih greget adalah deadline lamanya kuliah karena ketatnya kondisi ekonomi keluarga, lalu pertanyaan “what next” setelah selesai ujian akhir. Lantas adanya info dari kampung Toto tentang si Salimah yang orang tuanya mulai bertanya tanya pada ibunda Toto, lalu… lalu.

“Tak ada habisnya” Toto menarik nafas dalam. “Ketika SD, ingin masuk SMP. Sudah di SMP ingin ke SMA. Teruuuus begitu sampai posisi sekarang”.

“Itu kan wajar aja lah” Dendi menimpali.

“Hhmm… ya wajar tetapi kalau tidak diselingi perenungan, introspeksi diri, bertanya kepada Allah dan berserah diri, perjalanan hidup ini benar-benar melelahkan. Banyak yang diinginkan, banyak target yang harus dicapai tetapi waktu sangat terbatas.”

“Kamu mulai bicara tinggi lagi”. Dendi terkenal dengan gaya bicara nyablak, seenak perut ketika menyampaikan oerbedaan ebdapat. Walau kedua berkawan ini sering berbeda pendapat, mereka tetap saling curhat.

“Aku ingin katakan, perjalanan hidup ini membutuhkan energi besar. Energi itu milik Allah, sehingga setiap merasa sedih, kecewa, putus asa, lelah, mestinya kita meminta pada Sang Maha Kuat, pemilik energi. Minta di-recharged”. Toto berhenti sejenak sambil menatap lama temannya. “Nah, Allah sudah memberikan SOP yang berfungsi sebagai charger itu”.

“Apa itu?” Dendi yang bertabiat keras kepala, mulai tertarik dengan kehalusan suara Toto dalam menjelaskan perkara meminta kekuatan pada Allah.

“Sabar dan sholat”. Toto berhenti lama. Dia ingin sahabatnya mengendapkan dua kata terakhir itu ke dalam hatinya sendiri.

Suka tak suka didengar oleh Dendi, berat atau pun ringan terasa oleh Toto dalam mengungkapkannya, Toto sudah bertekad untuk menyampaikannya kepada sahabatnya Dendi. Dendi berasal dari keluarga dengan pemahaman seadanya tentang Islam. Toto merasa terpanggil untuk berdakwah kepadanya.

Dendi yang memiliki ritual sholat belang belentong, diam saja setelah mendengar dua kata terakhir itu. Di hatinya yang paling dalam, dia mengakui bahw dirinya jarang sekali meminta kekuatan kepada Allah. Dipikirnya uang dari kampung bisa datang tanpa bersebab dari Allah. Kuliah yang lancar jaya diartikannya sebagai hasil upaya dirinya semata. Lebih parah lagi pendapatnya tentang masa depannya setelah kuliah : Yang penting kita harus selalu meng-upgrade diri untuk memenangkan persaingan di dunia kerja. Nah, pasti dapatlah, posisi. Kata `pasti` itulah yang malam ini sempat dibahas panjang lebar.

“Jadi, hhmm… kita jangan sampai kehabisan batere. Manfaatkan charger dari Allah sebaik-baiknya. Mumpung chargernya gratis dan listriknya gak perlu bayar”.

Sudah sejak kata `shabar dan sholat` Dendi belum juga berbunyi. Soal pekerjaan nanti sebagai persiapannya untuk disebut sebagai seorang laki-laki tulen, memang benar-benar membebani kepalanya. Sampai-sampai dia punya kebiasaan baru: merokok sambil melihat bulan. Maklumlah, dia sudah mematut-matut Sinta teman kuliahnya, sebagai calon istrinya. Benar benar kegalauannya ini menyangkut harga diri. Lebih tepat harga mati. Selama ini tak terpikir olehnya untuk meminta pada Sang Pemilik Sinta, sekaligus Sang Pengatur Lapangan Kerja (baca rejeki). Tak pula dia manfaatkan charger gratis yang sudah disediakan Allah.

“Hhmm…” hanya itu bunyi yang keluar dari mulut Dendi setelah tarikan nafas panjang.

“Sudah jam 1. Saatnya untuk recharge energi” kata Toto dengan suara lirih, sambil melihat pada Dendi.

Bandung, 06 07 2016
Lisa Tinaria

Share informasi menarik iniShare on Facebook0Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn0Pin on Pinterest0

Ada pertanyaan atau komentar?

Lihat Aturan kami

Your email address will not be published. Required fields are marked *