Sarapankata.ApkAplikasi Sarapankata, Ringan dan Cepat irit Kuota

ARAUCARIA ARAUCANA

ARAUCARIA ARAUCANA

Aku mengangkat bibit pohon itu dengan terhuyung huyung lalu memasukkannya ke dalam lubang yang sudah digali Mang Ucup. Mengapa pula aku sendiri yang menanamnya? Itulah aku. Bertanam pohon sangat kusuka, sehingga ketika Mang Ucup akan mengangkat anakan pohon itu, aku dengan sigap sudah mendahuluinya. “Biar Mamang saja atuh… Neng” katanya tergopoh gopoh mengikutiku.

Selesai satu pohon. Aku sungguh puas dengan kegiatan bertanam hari pertama weekend ini. Selesai berpeluh dan pegal karena membersihkan halaman depan, aku tidur agak cepat malam itu. Aku membayangkan, rumah yang baru kubeli akan menjadi rumah yang tidak biasa karena di halaman rumah tumbuh beberapa pohon. Jenis pohonnya pun, langka. Pohon yang akan tumbuh tinggi dan besar. Namanya Araucaria Araucana. Namanya susah. Ah, yang penting cantik, di gambar Google. Aku tidur sangat nyenyak malam itu, sambil membayangkan sejuknya halaman rumahku.

Setelah matahari bersinar esok harinya, aku terpana memandang ke halaman depan dari kamarku. Pohon yang kutanam kemarin sore, sudah menjulang tinggi! Penasaran aku keluar bergegas. Ha!? Tinnginya melewati atap rumahku!? Hanya dalam semalam? Aku ingat cerita Sangkuriang. Hhmm…mengapa tidak. Kun faya kun! Begitu yang kuyakini.

Pikiran liar mulai berkelebat di kepalaku. Mengapa tidak kucoba menanam pohon tinggi besar tetapi hanya berdaun sedikit seperti yang akan dibeli Ahok? Pohon itu tampilannya persis brokoli kalau ditancapkan di gagang sapu. Daunnya irit, hanya di puncak. Eksotis kupikir. Betul juga si Ahok. Tetapi alamak, harganya 750 jeti untuk yang sudah jadi. Yang sudah tinggi besar.

Aku tak kehilangan akal. Dengan menunjukkan gambar hasil googling kepada Mang Ucup yang cerdas, tukang kebunku itu berhasil membawa si Baobab, nama pohon itu. Tingginya sudah sama denganku. Sekarang aku hanya bisa melihat pohon itu digotong Mang Ucup. Tak bisa aku mengangkatnya karena sangat berat.

Selesai sudah pohon kedua. Sambil duduk sore itu di beranda, aku memutar otakku, apalagi yang bisa kubuat dengan kebun kesayanganku. Lama lama aku mengantuk dan akhirnya malam itu aku kembali tidur lebih awal. Tersenyum puas aku membayangkan halaman rumahku akan menjadi halaman paling hijau di lingkungan tempat tinggalku. Aku tersenyum geli membayangkan Bu Suntoro tetangga depanku yang membeli tanaman rambat, hijau, dari plastik yang dibiarkan menjuntai di atap carport-nya.

Pohon Baobab dan Araucaria Araucana, sekarang sudah sama tinggi. Melebihi tinggi rumah bertingkat Bu Suntoro. Batangnya pun besar. Kelihatan gagah. Aku benar benar takjub. Tidak sia sia aku mengupayakan menanam dua pohon itu. Rumahku sekarang jadi unik dan cantik.

Ketika sedang menikmati halaman rumahku, tiba tiba langit menjadi sangat gelap. Angin mulai berhembus dan semakin kencang. Aku merasa kedinginan. Bergegas aku masuk ke rumah. Tidak lama setelah mengangkat jemuran di halaman belakang, hujan mengguyur bumi. Sesekali halilintar menggelegar. Oktober kini. Musim hujan telah tiba. Aku memperhatikan langit. Ada rasa ciut memyelinap di hatiku. Kedua pohonku meliuk liuk liar.

Tak seperti biasanya, ketika hujan aku suka cepat tidur, sekarang aku ketakutan. Entahlah, memikirkan pohonku yang bisa saja tumbang atau rumahku yang mungkin saja bocor. Atau…atau…pohonku itu menimpa rumahku…??!!

Sebuah sentakan petir membuat aku menjerit histeris. Bunyi berikutnya adalah bunyi benda berat jatuh di depanku, bercampur dengan bunyi patah di sana sini, berderak. Aku antara sadar dan tidak. Kakiku seperti tertimpa beban sangat berat. Aku tak mampu bergerak. Inikah akhirku bersama kedua pohon kesayanganku?

Dalam dingin itu aku merasakan keningku berkeringat. Aku masih sadar dan kulihat warna putih di atas kepalaku. Berbeda sekali dengan awan hitam tadi. Lampu itu? Butuh satu menit untuk menyadari sekelilingku. Aku terbaring di kamarku dengan bantal guling melintang di kakiku. Aku mimpi tentang si cantik Araucaria Araucana dan temannya si Baobab.

Bandung, 1 Oktober 2015
Aku pencinta pohon, Lisa Tinaria.

Share informasi menarik iniShare on Facebook0Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn0Pin on Pinterest0

Ada pertanyaan atau komentar?

Lihat Aturan kami

Your email address will not be published. Required fields are marked *